Thursday, 19 March 2015

Bermimpi dengan Mata Terbuka

Melanjutkan tulisan beberapa hari lalu tentang "manusia yang utuh".
Faktanya, banyak yang tak berani bermimpi namun banyak juga yang bermimpi besar tapi tak 'bangun' dari 'tidur'nya.


Tak berani bermimpi boleh jadi karena belum merenungi kenapa ia sampai hadir di dunia ini. Boleh jadi karena saking sibuk dan termakan oleh rutinitas hingga tak punya waktu untuk 'silent', mundur dan diam sejenak mencari arti dan tujuan hidupnya. Moga weekend ini menjadi moment untuk sedikit berdiam diri, mengaktifkan jiwa dan rasa : "apa yang saya cari, apa yang saya ingin lakukan selama hidup...?"


Untuk yang mampu bermimpi besar (apalagi kalau habis ikutan seminar motivasi), kadang tak butuh waktu lama lalu tiba-tiba ia mengecilkan kembali mimpinya yang besar tadi. Kenapa ya...?




Mari kita cek 2 hal berikut :

1. Bermimpi dengan mata tertutup.
Membiarkan mimpinya hanya diam di alam mimpi. Upaya yang dilakukan tak sungguh-sungguh, sama saja dengan yang sudah pernah ia perbuat. Hukum Allah itu berlaku logis, kita dibalasi sebesar yang kita upayakan...

Tentu kita pernah mendengar tentang proses terciptanya alam semesta, dijelaskan bahwa melalui 7 masa... Apakah Tuhan tak mampu membuatnya dalam sekejap...? Tentu DIA sangat mampu, tapi bagi kita yang mau berpikir, sebenarnya Allah sedang mengajarkan sebuah pemahaman tentang PROSES.

Mimpi besar perlu didukung dengan tindakan yang besar pula. Buka mata (hati) untuk melihat, apakah upaya yang dilakukan sudah sebesar impiannya...?
Kita mungkin masih sering mendengar berapa banyak orang-orang yang 'tertipu' oleh iming-iming kaya instan, sukses mendadak dan cerita-cerita gila lainnya. Yaa... beberapa dari yang tertipu ini memang berakhir gila atau minimal stress.

Pernahkah berendam dalam ember besar yang penuh air...? Coba perhatikan air yang tumpah, jumlahnya tak sama jika yang 'nyemplung' adalah anak-anak bertubuh mungil. Hukum alam ini jelas, upaya yang kecil, hasilnya pun kecil...
Sadar bin waras lah...


2. Stress menunggu hasil. 
Nah, ini jebakan impian besar berikutnya. Kesuksesan itu jika kita mampu menikmati proses menuju impian, bukan stress menunggu kapan sampainya. Selama yang dilakukan sudah di jalan yang benar dan sesuai, selama upaya yang dilakukan sudah sebesar impian yang diharapkan, biarkan Tuhan memutuskan hasil akhirnya.

Mindset yang baik untuk kita miliki saat berproses adalah :
a. Allah Maha Baik, tak mungkin memberikan yang buruk-buruk
b. Ketidaknyamanan tak berarti sama dengan keburukan (pernah kah dicabut gigi yang rusak oleh seorang dokter? Sakit...? Yaa... tapi tak berarti sang dokter sedang berlaku buruk, walau terasama tak nyaman)


Apa ruginya jika kita berfokus pada hasil...?
a. Hasil yang didapat belum tentu sesuai keinginan (bukankah Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan?)
b. Stress dalam berproses hanya akan menggagalkan perjalanan, belum sampai tapi sudah kalah.

Fokus pada proses, perhatikan langkah-langkah yang diambil. Ibarat sebuah pabrik yang sednag beroperasi, pabrik mobil tak akan pernah menghasilkan sebuah pesawat canggih..


Yuk,
Kita buka mata (hati) dalam menjemput impian besar kita. Manusia adalah ciptaan terbaik, jangan rusak dengan perbuatan dan pemikiran yang mengkerdilkan kesempurnaan kita...

Wednesday, 18 March 2015

Manusia yang Utuh

Termenung saat mendapatkan sebuah pertanyaan dari seorang sahabat : "apa impian besar loe, vi?" (Impian yg nampak dan kasat mata)

Saya jawab : "Become the greatest inspiring woman from Asia 2025"

Sahabat saya kembali bertanya : "inspiring dalam hal apa..?"

Saya jawab : "as a woman : inspiring in family+business"

Teringat lagi sebuah sharing dari om Subiakto tentang "air kehidupan".... Setiap orang memiliki warna airnya sendiri... Kita boleh berpindah peran tapi tak mengubah warna air kehidupan kita...

Saya tak percaya bahwa orang yang hebat di kantor/ di bisnis lalu bisa gagal di keluarga... Seolah-olah kita manusia yang punya banyak topeng kehidupan. Seseorang yang sukses di keluarga pasti akan membuahkan sukses di bisnis atau karirnya... Air kehidupannya yang mengisi setiap wadah yang ia temui... Jika seseorang memiliki kepribadian yang banyak boleh jadi ia sedang mengalami split personality. Misal, di kantor ia tak jujur tapi di rumah ia jujur..... ini "hil yang mustahal" hehehee... must be something wrong...

Seorang Ayah/ Suami yang biasa mencari & menjalan kekuasaan/ karir/ bisnis dengan cara menipu, mana mungkin bisa membesarkan keluarganya dengan air kehidupan yang jujur.... Atau sebaliknya, seorang Ayah/ suami yang membesarkan keluarga dengan air kehidupan yang jujur dan kasih sayang tentu akan membawa air ini ke tempat ia berkarir/ bekerja...

Mungkinkah warna air kehidupan berubah kelak...? Hemmm.... mungkin bahasanya bukan berubah tapi "bertumbuh".... air yang tadi hanya memiliki warna yang biasa, setelah berproses (bertumbuh) lalu menjadi air yang berkilau (ga butek), wangi dan bahkan memberi kehidupan kepada orang lain...

Ya... manusia selayaknya bertumbuh, walau tak semua mau untuk bertumbuh... ada "harga" dan proses yang mesti "dibayar". Tentu semua kita pernah merasakan bagaimana serunya ketika gigi bungsu tumbuh.... lumayan yha... sesuatu ;)

Hidup pilihan... air kehidupan yang bagaimana yang akan kita miliki...? Apakah yang berubah-ubah di setiap wadah ataukan yang utuh dan sama. Kita mungkin pernah mendengar : "ini urusan bisnis, ndak usah bawa-bawa akhirat"...
Hehheee.... makin berat hidup jika ini peran yang kita mainkan... Setiap peran akan dimintai pertanggungjawabannya kelak...

Kapan seseorang mau memperbaiki kualitas air kehidupannya...? Saat ia mulai merenungi dan mencari makna "untuk apa Saya hidup...?"

*Air kehidupan boleh dimaknai values (nilai-nilai) yang diyakini