Thursday, 19 March 2015
Bermimpi dengan Mata Terbuka
Faktanya, banyak yang tak berani bermimpi namun banyak juga yang bermimpi besar tapi tak 'bangun' dari 'tidur'nya.
Tak berani bermimpi boleh jadi karena belum merenungi kenapa ia sampai hadir di dunia ini. Boleh jadi karena saking sibuk dan termakan oleh rutinitas hingga tak punya waktu untuk 'silent', mundur dan diam sejenak mencari arti dan tujuan hidupnya. Moga weekend ini menjadi moment untuk sedikit berdiam diri, mengaktifkan jiwa dan rasa : "apa yang saya cari, apa yang saya ingin lakukan selama hidup...?"
Untuk yang mampu bermimpi besar (apalagi kalau habis ikutan seminar motivasi), kadang tak butuh waktu lama lalu tiba-tiba ia mengecilkan kembali mimpinya yang besar tadi. Kenapa ya...?
Mari kita cek 2 hal berikut :
1. Bermimpi dengan mata tertutup.
Membiarkan mimpinya hanya diam di alam mimpi. Upaya yang dilakukan tak sungguh-sungguh, sama saja dengan yang sudah pernah ia perbuat. Hukum Allah itu berlaku logis, kita dibalasi sebesar yang kita upayakan...
Tentu kita pernah mendengar tentang proses terciptanya alam semesta, dijelaskan bahwa melalui 7 masa... Apakah Tuhan tak mampu membuatnya dalam sekejap...? Tentu DIA sangat mampu, tapi bagi kita yang mau berpikir, sebenarnya Allah sedang mengajarkan sebuah pemahaman tentang PROSES.
Mimpi besar perlu didukung dengan tindakan yang besar pula. Buka mata (hati) untuk melihat, apakah upaya yang dilakukan sudah sebesar impiannya...?
Kita mungkin masih sering mendengar berapa banyak orang-orang yang 'tertipu' oleh iming-iming kaya instan, sukses mendadak dan cerita-cerita gila lainnya. Yaa... beberapa dari yang tertipu ini memang berakhir gila atau minimal stress.
Pernahkah berendam dalam ember besar yang penuh air...? Coba perhatikan air yang tumpah, jumlahnya tak sama jika yang 'nyemplung' adalah anak-anak bertubuh mungil. Hukum alam ini jelas, upaya yang kecil, hasilnya pun kecil...
Sadar bin waras lah...
2. Stress menunggu hasil.
Nah, ini jebakan impian besar berikutnya. Kesuksesan itu jika kita mampu menikmati proses menuju impian, bukan stress menunggu kapan sampainya. Selama yang dilakukan sudah di jalan yang benar dan sesuai, selama upaya yang dilakukan sudah sebesar impian yang diharapkan, biarkan Tuhan memutuskan hasil akhirnya.
Mindset yang baik untuk kita miliki saat berproses adalah :
a. Allah Maha Baik, tak mungkin memberikan yang buruk-buruk
b. Ketidaknyamanan tak berarti sama dengan keburukan (pernah kah dicabut gigi yang rusak oleh seorang dokter? Sakit...? Yaa... tapi tak berarti sang dokter sedang berlaku buruk, walau terasama tak nyaman)
Apa ruginya jika kita berfokus pada hasil...?
a. Hasil yang didapat belum tentu sesuai keinginan (bukankah Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan?)
b. Stress dalam berproses hanya akan menggagalkan perjalanan, belum sampai tapi sudah kalah.
Fokus pada proses, perhatikan langkah-langkah yang diambil. Ibarat sebuah pabrik yang sednag beroperasi, pabrik mobil tak akan pernah menghasilkan sebuah pesawat canggih..
Yuk,
Kita buka mata (hati) dalam menjemput impian besar kita. Manusia adalah ciptaan terbaik, jangan rusak dengan perbuatan dan pemikiran yang mengkerdilkan kesempurnaan kita...
Wednesday, 18 March 2015
Manusia yang Utuh
Termenung saat mendapatkan sebuah pertanyaan dari seorang sahabat : "apa impian besar loe, vi?" (Impian yg nampak dan kasat mata)
Saya jawab : "Become the greatest inspiring woman from Asia 2025"
Sahabat saya kembali bertanya : "inspiring dalam hal apa..?"
Saya jawab : "as a woman : inspiring in family+business"
Teringat lagi sebuah sharing dari om Subiakto tentang "air kehidupan".... Setiap orang memiliki warna airnya sendiri... Kita boleh berpindah peran tapi tak mengubah warna air kehidupan kita...
Saya tak percaya bahwa orang yang hebat di kantor/ di bisnis lalu bisa gagal di keluarga... Seolah-olah kita manusia yang punya banyak topeng kehidupan. Seseorang yang sukses di keluarga pasti akan membuahkan sukses di bisnis atau karirnya... Air kehidupannya yang mengisi setiap wadah yang ia temui... Jika seseorang memiliki kepribadian yang banyak boleh jadi ia sedang mengalami split personality. Misal, di kantor ia tak jujur tapi di rumah ia jujur..... ini "hil yang mustahal" hehehee... must be something wrong...
Seorang Ayah/ Suami yang biasa mencari & menjalan kekuasaan/ karir/ bisnis dengan cara menipu, mana mungkin bisa membesarkan keluarganya dengan air kehidupan yang jujur.... Atau sebaliknya, seorang Ayah/ suami yang membesarkan keluarga dengan air kehidupan yang jujur dan kasih sayang tentu akan membawa air ini ke tempat ia berkarir/ bekerja...
Mungkinkah warna air kehidupan berubah kelak...? Hemmm.... mungkin bahasanya bukan berubah tapi "bertumbuh".... air yang tadi hanya memiliki warna yang biasa, setelah berproses (bertumbuh) lalu menjadi air yang berkilau (ga butek), wangi dan bahkan memberi kehidupan kepada orang lain...
Ya... manusia selayaknya bertumbuh, walau tak semua mau untuk bertumbuh... ada "harga" dan proses yang mesti "dibayar". Tentu semua kita pernah merasakan bagaimana serunya ketika gigi bungsu tumbuh.... lumayan yha... sesuatu ;)
Hidup pilihan... air kehidupan yang bagaimana yang akan kita miliki...? Apakah yang berubah-ubah di setiap wadah ataukan yang utuh dan sama. Kita mungkin pernah mendengar : "ini urusan bisnis, ndak usah bawa-bawa akhirat"...
Hehheee.... makin berat hidup jika ini peran yang kita mainkan... Setiap peran akan dimintai pertanggungjawabannya kelak...
Kapan seseorang mau memperbaiki kualitas air kehidupannya...? Saat ia mulai merenungi dan mencari makna "untuk apa Saya hidup...?"
*Air kehidupan boleh dimaknai values (nilai-nilai) yang diyakini
Saturday, 21 February 2015
Ujian "Keimanan" bagi Pebisnis
Minggu lalu berkesempatan hadir di penjurian business plan kawan2 1in20 movement bersama pak Budi Satria Isman dan mas Yuszak M Yahya
Dari pemaparan, kritikan & masukan beliau2 terhadap bisnis kawan2 adalah :
FOKUS.... FOKUS.... FOKUS....
Fokus bisnisnya.... fokus produknya...
Beliau melihat tentunya dengan kacamata investor. Ya.... investor senang dgn bisnis yg Fokus dan Jelas alias ga banci...
Fokus dan ga "banci" owner...
Pastinya konsumen juga akan begitu. Konsumen juga senang ke bisnis yg jelas maunya apa? Menawarkan apa dan apa benefitnya bagi mereka...
Tapi memang... fokus dan kejelasan, baik secara produk maupun sikap owner bisnis ini sebuah tantangan tersendiri, apalg bagi UKM.
Belum apa2 sdh melirik bisnis yg lain... blm apa2 sdh tergiur ingin coba2 penghasil dari sana dan sini...
Membangun bisnis adlh hal yg mungkin tdk terlalu sulit, tp utk mampu fokus, bertahan dan bertumbuh di bisnis yg sama memang tidak mudah... "keimanan" owner benar2 diuji.
Kemarin jualan A, tetiba hari ini jualan B. Percayalah... konsumen akan sgera melupakan kita dan produk kita.
Pak Dahlan Iskan bilang :
Ujiam keimanan bagi pebisnis adalah pada kemampuannya utk FOKUS dlm bisnisnya...
*Hidup Pilihan
Sunday, 21 December 2014
Asah gergaji (menambah ilmu)
"Ahhhh.... kalo si Vivi mah ada orang gila jual obat juga dia beli, aneh dia emang !!!!"
=====
Demikian kira2 statement seseorang yg disampaikan ke bbrp orang teman... yak... dianggap aneh bahkan mgkn dianggap gila....
Tapi saya sangat2 menikmati pendapat ini, walau awalnya kesal juga... lama2 jadi bersyukur...
Orang ini pastinya tak mengenal saya (walau sdh bertahun2 "tau" saya). Dia tak mengenal bahwa saya dilahirkan dgn kebutaan ilmu ttg profesi yg saya jalankan sekarang (berkeluarga, punya suami, anak dan punya usaha).... Utk keempat hal ini saya 100% buta, namun saya sadar bahwa hidup bisa dijalankan dgn kebodohan... dan saya tak memilih utk bodoh....
Spt seorang tukang kayu... jika waktu saya hanya 7 hari, maka 5 harinya akan saya gunakan utk mengasah gergaji dan 2 harinya utk memotong kayu dgn gergaji yg tajam tadi...
Setiap orang bebas memilih... dan saya memilih utk tetap merasa bodoh agar tak tinggi hati dlm mencari ilmu...
Suami saya berhak didampingi oleh perempuan pintar, anak2 saya berhak dididik oleh ibu yg pintar... Tim saya berhak tumbuh di tempat usaha yg berilmu... konsumen saya berhak mendapatkan pelayanan yg berilmu...
Dan... Saya hanya memberikan hak2 mereka, dengan cara BELAJAR... krn saya Bodoh
Monday, 13 October 2014
Team Building
Alhamdulillah....
Dua hari full Tim Alifa Kids (Guru & Management) mengikuti inhouse training yg didampingi Pak Agus Sampurno ( @gurukreatif ).
Setelah 2 tahun akhirnya kesampaian ketemu beliau...
Beberapa kali sosok beliau jadi bahan diskusi kami, menyimak tweet dan tulisan beliau di blog, pemikiran-pemikiran beliau mencerahkan...
Dua hari kemarin melihat tim yang happy dan antusias, kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya pribadi. Walau tetap 'bekerja' hari minggu. Bisa saja mereka menolak karena toh libur adalah hak mereka...
Tapi yang kami dapatkan adalah kegembiraan dan antusias belajar. Bahasa tubuh mereka bicara jujur....
Bahagiaaaa.... berkumpul dengan tim yang punya kecintaan belajar... yang haus akan ilmu... yang juga ingin berbuat lebih baik bagi anak-anak dan orang tua...
Nikmat mana lagi yang harus kami dustakan...
Selama 6 tahun ini kami memang berfokus membangun tim, mendorong hati dan diri mereka untuk mau sama-sama bertumbuh...
Saat ini mungkin kami belum memiliki bangunan sekolah yang mengesankan... bahkan bukan sekolah yang bilingual (walau sudah memperkenalkan bahasa inggris dan arab kepada siswa dengan sederhana).
Kami yakin.... jika berfokus pada pengembangan tim, membantu mereka menjadi pribadi-pribadi terbaik dalam profesi mereka, maka fasilitas dan yang lainnya hanya akan jadi faktor pendukung... Kami perlu memastikan bahwa anak-anak seharian didampingi oleh orang-orang yang penuh cinta kasih dalam masa tumbuhkembang mereka...
Terimakasih, my Lovely Great Team... InsyaAllah kita akan terus bertumbuh, apapun caranya... Tak mudah puas dengan ilmu yang ada.... Anak-anak berhak untuk diberikan pendampingan terbaik...
Lets flying high together....
Love.. love... love.... you all...
Saturday, 27 September 2014
Guru sebagai Human Capital
"Siapa yang bunda pilih jika ada 2 orang calon menantu yang ingin melamar anak bunda, yang satu adalah seorang dokter dan yang satunya seorang guru?"
Tim kami senyum-senyum diam dengan pertanyaan ini. Yaa... ini faktanya, bahwa guru belum menjadi profesi idola apalagi impian... Bukan untuk membandingkan buruk baik, namun untuk membuka mata bersama dan melakukan perbaikan bersama...
Lalu siapa yang akan mengeser keadaan ini...? Tak mungkin orang lain, yang mampu dan seharusnya bisa melakukan ini adalah guru itu sendiri dan sekolah. Pemerintah...? Mungkin, tapi lebih baik kita lakukan hal-hal yang memang masih dalam jangkauan kita.
Sebuah tantangan ketika kami menghadapi yang katanya sarjana pendidikan namun saat di lapangan masih jauh dari apa yang kami bayangkan...
Tantangan juga saat kami berhadapan dengan pribadi-pribadi guru yang ketika diminta mengikuti training dan re-training namun datang dengan energi seadanya karena terpaksa...
Tantangan juga saat kami berhadapan dengan pencari kerja dan ingin menjadi guru hanya karena bisa bekerja setengah hari dan karena tak ada pilihan lain...
Tantangan pula bagi tim kami saat berkumpul dengan sesama rekannya dari sekolah lain lalu mendengar komentar "ngapain capek-capek kerja di sana, sampai sore lagi, harus ikut training ini itu..?"
(Padahal training-training ini Gratis.. tiss... tiss..., hehee...)
*CurhatKamiDariDaerah
Hanya guru sendiri yang bisa mengangkat derajat profesinya.... dengan bersikap layaknya seorang pendidik. "Resiko" bekerja dengan tim kami salah satunya bersedia akun sosial medianya diawasi. Yaa... kami memang mau repot-repot mengurusi sikap yang katanya seorang guru namun status-statusnya tak lebih dari ungkapan remaja galau atau keluhan-keluhan yang menebar energi negatif.
Kami memandang Guru sebagai Human Capital, selayaknya Capital/ Modal yang sangat sensitif bagi sebuah usaha. Modal menjadi kunci, modal diharapkan untuk selalu bertambah menjadi aset dan kekayaan, modal yang dijaga agar tidak tergerus...
Guru sebagai Modal dalam bentuk manusia/ subjek yang sangat-harus-mesti-wajib dijaga.
Dijaga agar kualitas diri pribadi mereka MENINGKAT. Bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan mereka. BERTAMBAH pengetahuan dan skillnya tak hanya dalam pekerjaan tapi juga dalam keseharian mereka. KEKAYAAN yang patut dijaga, karena tanpa pendidik yang berkualitas akan seperti apa anak didiknya...
Karenanya kami tak berdiam diri dan mengeluh ketika menerima "tantangan-tantangan" tadi. Sebisa kami menyediakan sarana belajar bagi tim guru. Benar bahwa training wajib diikuti oleh tim kami. Benar pula bahwa kami bersedia repot mengurusi tindak tanduk yang tak mencerminkan seorang pendidik.
Harga diri dan derajat seorang guru tak diperbaiki hanya dengan menuntut pihak luar/ orang lain untuk menghargai. Melainkan kerjasama dan kesediaan antara pribadi guru dan sekolah.
Mimpinya adalah sesegera mungkin kualitas pendidikan Indonesia dapat disejajarkan dengan negara lain yang diakui kehebatan kualitasnya.
Long way to go...? Mungkin.... Tapi harus ada yang mulai... KITA (Saya, tim kami dan Bapak Ibu Guru sekalian....)
*foto :Tim Alifa Kids usai mengikuti Seminar Personality (by STIFIn)
Tuesday, 23 September 2014
Melewati Titik Aman Pertama (5 tahun)
Business by accident...? Jawabannya bisa "ya" bisa "tidak"...
Ya, karena dulu sama sekali tidak pernah membayangkan akan beraktifitas dan memegang tanggungjawab seperti sekarang...
Tidak, karena apa yang datang sekarang saya yakini bukanlah kebetulan dan tanpa maksud. Allah pilihkan jalan ini sebagai jawaban dari pertanyaan yang berulang-ulang saat masih menjadi ibu dengan bayi 4 bulan "Apa yang bisa saya lakukan agar bermanfaat bagi orang lain dan saya cinta dengan pekerjaan itu...?"
Mungkin Tuhan juga 'gemes' karena nanya2 terus (statement ini jgn diplintir ya... hehee...). Akhirnya dikasi jalan ini, SATU PAKET dengan konsekuensi dan tanggungjawabnya.
Koq kesannya seram ya...? Ga cuma kesan koq, emang seram beneran, hahahaaa... (masih bisa ketawa)
Alhamdulillah, kami sudah lewati titik aman pertama... Menurut statistik bahwa 5 tahun pertama 95% usaha pemula bangkrut dan tutup. 5 tahun berikutnya adalah perjalanan menuju titik aman berikutnya...
Makin kesini makin sadar dan berbenah di sana sini.... Pernah ada yang berkomentar bahwa "Ooo... pendidikan dibisnisin ya...?" Yang begini ga perlu dijawab... Mungkin yang bersangkutan punya trauma dengan bisnis, sampai harus menterjemahkan bisnis sebagai hal yang tak baik...
Kenapa pendidikan dibisniskan...?
1. "Karena jika hanya berharap dari pemerintah ga akan sanggup memenuhi kebutuhan ratusan juta manusia di Indonesia ini" (pihak diknas sendiri yang state seperti ini)
2. Karena dengan kacamata bisnis, orientasinya adalah konsumen, apa yang mereka butuhkan, apa solusi yang bisa kita sediakan, apa yang bisa kita bantu, apa hak-hak mereka yang Wajib kita jaga dan berikan...?
3. Karena dengan kacamata bisnis jika sumber daya tak ada, segala cara dan upaya akan dilakukan agar kebutuhan konsumen tetap terpenuhi (cara-cara yang layak tentunya)
Saya pribadi bermimpi... Suatu saat Alifa Management (Alifa Kids) akan menjadi tempat favorit bagi orang-orang yang ingin bekerja... Ga hanya karena kompensasi yang mungkin lebih baik tapi juga karena budaya dan lingkungan kerja yg membuat mereka lebih tentram, damai lahir bathin..
Sehingga mereka bisa merasa : "my life feel better now..".
Setiap laki2 yang menjadi part of my team bisa merasa :
"gw bisa jadi laki2 dan suami yg lebih bermakna buat keluarga gw..."
Setiap perempuan yang menjadi part of my team bisa merasa :
"gw merasa nyaman, gw punya ilmu untuk mendidik anak2 gw & mendampingi suami gw...".
Well... on progress now... InsyaAllah dimudahkan... InsyaAllah semesta pun sedang berkonspirasi utk mendukung...
Allah pun mengirimkan "malaikat-malaikat" berwujud manusia yang akan membantu tim ini bermanfaat bagi semesta.... Aamiinnn...
Monday, 8 September 2014
Melarang = Mendidik...?
Kemarin baca link di timeline. Kira2 isinya bahwa tidak benar kalo kita ga boleh menggunakan kata "jangan" saat mendidik anak.
Pemikiran meniadakan kata jangan ini dianggap hasil pemikiran barat (jadi ya dimusuhin lagi, kasian dehhhh... capedeee....). Alasannya krn dlm Islam ada ayat yg menunjukan kata jangan misal dlm surat Luqman dll.
Jadi kalo pemikiran barat ini dipakai, ntar malah susah mengajarkan anak menjalankan syariat/ jadi ga syar'i.
Ngertiin ayat juga jgn kaku gitu donk... baiknya cari n tanya2 lagi.. kasian kalo ingin membesarkan islam tp dgn cara membenci barat... bukannya di barat sana jg ada muslim...?
=====
Balik ke urusan kata "jangan". Terserah mau pakai teori n pemikiran mananya ya... dari yg saya pribadi amati, kata jangan ini nyaris ga didengar (itu faktanya)...
Kenapa.....?
Krn saat guru atau ortu ngucapin kata "Jangan" cenderung:
1. Intonasi suara meninggi/ napsuan pengen marah. Jarang banget yg ngucapin kata ini dgn suasana hati damai lahir bathin. Nah, anak tuh bisa deteksi loh apakah ortu lagi damai or lagi kesel. Utk usia kanak2, makin meninggi suara makin anak "caper". Mereka "senang" sama reaksi yg berlebihan ini. Makanya, boro2 nasehat didengar, yang ada malah makin bikin emosi ortu menjadi-jadi, hehheee...
2. Pada saat bilang "Jangan", ortu atau guru ga kasi kalimat rasional lanjutannya.
Misal: Nak, jangan mainannya dibanting, kalo dibanting mainannya rusak, nanti adek ga punya mainan lagi....
Atau : Nak, sampahnya jangan dibuang sembarangan, nanti ada semut... bisa gigit kaki adek..
So, terserah aja sih mau pakai kata jangan tapi syarat n ketentuan berlaku ya, hehhee... (suara ga melengking n kasi alasan yang jelas), jadi bukan karena anti barat atau karena takut anak ga menegakan syariat (koq ya nyambungnya ngerepotin, heheee...)
Mau menjelaskan larangan dengan cara lain juga bisa... yakni dengan PERTANYAAN.
Misal : Sayang... apa bagus kalo kita buang sampahnya di sana...?
Atau : Sayang... apa baik kalo mainannya dibanting begitu...?
Pertanyaan ini ngajak otak anak berpikir dan harinya merasa... Kasi pertanyaan ke anak agar dia mampu berpikir kritis. Bukannya PERNYATAAN yang bikin anak punya mental "membebek". Walau huruf sama tapi efek beda jauh...
So, mau pakai metode apapun... Rasulullah ngajarin kita untuk membesarkan anak dengan kasih sayang... dengan lemah lembut... Toh tak satupun dari kita yang kelak mau dikasarin sama anak-anak kita kan...?
Anak-anak meniru/ terinspirasi oleh lingkungan (terutama ortu).
Terlalu banyak larangan dan perintah yang ia dapat malah bikin hatinya kaku... Ga percaya...? Cobain aja dan selamat menikmati hasilnya.. :)
Moga tulisan ringan ini bermanfaat...
Thursday, 7 August 2014
Orang Tua = Penguasa Anak...?
"Anak-anak dilahirkan ke dunia bukan untuk dijajah dan dikuasai, melainkan untuk dididik dan dimerdekakan"
Nemu quote ini di twitter.... Maknanya dalam banget, sebagai ortu mungkin kita merasa bahwa kitalah penguasa anak anak yg kita lahirkan & besarkan. Merasa telah berjasa dan berkorban segalanya bagi mereka.
Rasa ini seringnya berujung pada penguasaan ortu terhadap anak secara lahir bathin. Anak-anak tak diizinkan menjadi diri mereka sendiri. Orang tua merasa "paling tahu" apa yang terbaik untuk anak-anak mereka tanpa mau mendengar apa yang mereka inginkan. Sedikit argumentasi mereka lalu dianggap melawan dan dicap durhaka. Akhirnya lahirlah anak-anak bermental bebek yang bisanya ya hanya membebek.
Bukan berarti pula kita membiarkan anak-anak bicara dan berargumentasi tanpa etika. Ortu mestinya mampu membantu mereka untuk menjadi sosok yang berpikiran kritis namun dengan attitude yang baik. Masih ingatkan beberapa ulasan tentang kekerasan seksual pada anak...? Salah satu penyebab adalah karena anak tak diajarkan untuk berhak bersuara kepada orang yang lebih dewasa, ortu seolah-olah penguasa tunggal anaknya.
Setelah melewati masa kanak-kanak, 'prosesi' penguasaan orang tua ini berlanjut. Ketakutan tanpa membangun komunikasi yang baik dengan anak menjadi penyebab si remaja merasa dikekang dan akhirnya melawan. Sudah sering kita dengar berita kenakalan remaja... iya... yang nakal remaja... orang tuanya apa kabar...????
Yuk kita lanjut ke tahapan dewasa (masa si anak bekerja/ berkarya dan berumahtangga). Orang tua masih enggan melepas status kekuasaannya. Kita dengar bagaimana rumahtangga anak ikut "dibikin rame" oleh orang tua...?
Bahkan anak harus memilih: mendengarkan orang tua atau kah pasangan...? Kasian ya... ini cukup sering jadi penyebab huru hara rumahtangga. Bahkan ada yang menganut paham "mantan suami/ istri itu ada, mantan orang tua itu ga ada". Wahhh... wah.... bukankah anak menantu itu menikah atas nama Tuhan...? semudah dan semurah itukah diperbandingkan...?
Tulisan ini didedikasikan untuk para orang tua muda.... Kebanyakan kita meniru bagaimana cara kita dulu dibesarkan. Tak semuanya salah namun tak semuanya benar. Kita tak sedang menghakimi orang tua tapi sedang mendesain dan menjalankan proses membesarkan anak dengan cara terbaik dan sesuai 'zamannya'. Tuntunan yang tidak baik perlu diputus agar tak menjadi mata rantai yang tak ada habisnya.
Membesarkan anak adalah kewajiban kita, Tuhan berikan kebaikan atas kebaikan ini... Kita tak sedang "berdagang" dengan anak, kurang pantas jika kelak menuntut dan menyebut-nyebut kebaikan yang sudah diberikan kepada mereka, bahkan jika hingga mencap mereka durhaka.... Jangan-jangan kita pun sudah menjadi orang tua yang durhaka...?
Agar kelak kita tak jadi beban bagi anak-anak, ada baiknya diplanningkan masa tua kita sebaik mungkin. Seorang penasehat keuangan Ligwina Hananto di twitternya pernah berujar "banyak pasangan menikah yang tak bisa membeli rumah karena bocor-bocor kecil dalam keuangan mereka".
Kebocoran kecil ini yang perlu kita antisipasi. Besarkan anak-anak dengan sederhana (bukan berarti pelit). Ajarkan mereka berpikir fungsional. Misal, membelikan sepeda yang harga beberapa ratus ribu...? atau yang harga beberapa juta...? Fungsinya sama namun memang gengsinya yang beda.
Dalam sebuah training saya pernah diajarkan untuk merencanakan masa depan terbaik bagi anak dan bagi masa tua nanti. Suka tidak suka, permasalahan finansial sering menjadi gesekan anak menantu mertua, disamping hal-hal non materi lainnya....
Sederhana dalam mencinta.... yuk sama-sama kita bangun rasa ini, agar menjadi orang tua terbaik, menjadi orang tua yang dicintai anak-anak hingga tua kelak, bukan yang terpaksa dicintai karena mereka takut durhaka.... (Ga mudah... iya... ga mudah... bukak berarti ga bisa :) )
Tuesday, 3 June 2014
UKM & Team Building
1. AFTA
2. AEC
3. UKM
4. TEAM BUILDING
trus mojok di dinding sambil ternganga dan gigi rontok, hahahaa (apa sihhh...)
Belajar Branding dari om +Subiakto Priosoedarsono ( @subiakto ):
Brand yang dibangun mesti unik + relevan dengan kebutuhan konsumen + Bermakna
Belajar dari pak @hermawank tentang WOW Sales People 3.0, makin bikin berasap... semua orang di tim mestinya as a sales dan konsep sales bukan lagi versi jaman "dinosaurus" dulu yang nguber calon konsumen trus dijejali produk/ atau jasa kita. Ini udah ketinggalan banget dan jauh dari nilai-nilai kemanusia (walo sekarang masih banyak aja yang jualan model begini, siap2 tutup usahanya)
Sales people :
1. Mesti bisa jadi teman
2. Sudah termotivasi dari dalam diri sendiri
3. Menjaga penampilan luar + mesti PINTAR
4. Ajak konsumen untuk bertumbuh (they learn something)
5. Memanusiakan manusia, konsumen sebagai subjek
6. Paling penting : Sales People are a Leader
7. Leader yang sukses jika mesin dan bahan bakarnya pakai "cinta"
Wellllllll.................
Apakah arti dari semua iniiii....? Apakah benang merahnya.....?
BANGUN TIM... iyaaaa.... BANGUN TIM, hiks.......
Mau belajar kemana pun, pakai konsultan siapapun, mau bisnis apapun, ujung-ujungnya BANGUN TIM.
Makin mules makin berasap... Ketemu mas AFTA dan mbak AEC plus mbak/ mas lainnya mana bisa kalo kita-kita yang di UKM ini cuma ngandelin produk or perang harga doank... habisss kitaaa mbak/ sis mas/ brooo...
Iyaaa tauuu... bangun tim itu ga mudah, yang bilang mudah sapaah...? hahahaa..
Tapi bangun tim itu sama PENTINGnya dengan bangun gedung yang keren buat bisnis kita, bayar iklan yang mahal, sama pentingnya dengan ngulik2 produk/ jasa biar keren n dicari konsumen.
Bisnis itu = Konsep + Sistem + SDM
Sudahlah... tak perlu ngeles lagih... jangan ngaku punya bisnis/ usaha / entrepreneur n sejenisnya kalo ga mampu or ga mau bangun 3 hal ini. Specially untuk SDM ini bener-bener kerjaannya owner, jangan mimpi mau bayar konsultan buat bangun tim sendiri.
Sama aja kayak perempuan yang pengen punya anak tapi ga mau repot-repot hamil n ngelahirin, GA Logis mas/ bro Mbak/ sis...
SDM/ Human Capital/ Team itu adalah CERMINAN ownernyaaaa... Jangan komplen kalo tim ga beres, ga disiplin, ga well perform kalo Owner ga jadi TELADAN. Jauh panggang dari Api mas/ bro mbak/ sis...
Tim diminta ontime, ehhhh ownernya lemot bin lelet ga...? Tim diminta loyal, aihhh ownernya kalo ada cuan makan sendiri atau bagi-bagi n bikin tim happy..? Aliran boss NATO ituhhh, omdo.
Yukk ahh... kita kerja keras kerja tuntas dan berusaha ikhlas, buat bisnis kita, buat kota kita buat negara kitaaa... Jangan biarin orang-orang produktif di Indonesia ini cuma jadi komoditi buat pabrik-pabrik yang bentar lagi bakal nyerbu negara kita... Jangan biarin kualitas mereka jauh di bawah kualitas SDM import yang bentar lagi bakal ngelamar n jadi tenaga kerja asing di bisnis kitaaaa...
Iyaa iyaa... SDM sekarang itu careless, low skill n knowledge, ini nyaris jadi masalah di semua usaha apalagi UKM yang seperti kita yang ga bisa bayar mahal (gaji tinggi). Tapi siapapun yang mendeclare n membuat keputusan sebagai entrepreneur WAJIB mau n mampu mendidik timnya.
Bikin lah training center kecil/ sederhana di bisnis kita masing-masing... materinya ga usah keren bingittt... yang penting sesuai ama kebutuhan usaha kita dan bisa DILAKSANAKAN oleh tim. Lihat dari kacamata konsumen, apa yang mereka butuhkan...
Konsumen berhak diberikan pelayanan yang terbaik, coba deh kita yang di Pekanbaru (mungkin kota lain juga ada), hampirrrr seluruh tempat usaha mulai dari tempat makan sampai oleh-oleh punya server yang kasar jutek, hadehhhh... mereka ga ngeh kalo yang bayarin gaji tiap bulan itu ya konsumen yang datang itu. Ini tugas nya owner untuk bangun empatinya karyawan supaya bisa respek sama konsumen...
Segitu aja deh galaunya, yuk ahhh sama-sama kita berbenah.. biar UKM Indonesia bisa jadi yang terbaik di negeri sendiri, bisa ngasi yang terbaik untuk konsumen kita.
Semangattt ya Mbak/ sis, Mas/ Bro...
Ga Mudah bukan berarti Ga BISA ;)
Thursday, 10 April 2014
Buruknya Pelayanan UKM di Pekanbaru: Ancaman vs Tantangan vs Peluang ?
Statement ini yang berulang-ulang dikatakan pak Burang Riyadi saat kami ikut konsul sama beliau. Sama sekali tidak mudah, membenahi disana sini. Tapi pembenahan ini bukan sebuah pilihan melainkan KEHARUSAN. Kenapa harus...? Konsumen makin pintar memilih, pesaing bukan lagi tetangga sebelah tapi negara tetangga yang kuat modal, smart dan punya nature melayani.
Sudah lama ingin menulis tentang hal ini, entah kami yang punya ekspektasi tinggi atau memang standar pelayanan UKM di Pekanbaru yang harus dibenahi.
Mulai dari tempat makan (restoran) sampai usaha ritel. Sering bikin kecewa, geleng-geleng sampai shock dan terpaksa marah-marah.
Terakhir kali yang bikin jadi ngoceh di twitter setelah makan siang di A.L (entah itu cafe, entah itu restoran, dicampur-campur). Siang itu memang ramai karena libur Pemilu dan makan siang. Sambil menunggu makanan, 3 kali waitressnya datang mengantarkan menu yang bukan kami pesan, tentu saja kami tolak.
Selesai makanannya diantar dan disantap, minuman yang sesuai orderan tak kunjung datang. Kesal dan kami pulang. Mbak di Cashier bilang "maaf bu, tadi ga dikasi tau temen saya ya... gelas kami kurang karena di cafe juga rame". Dohhhhh....
*Gigit besi. Akhirnya keluar dan cari minum sambil keselek...
Ini bukan satu-satunya tempat makan yang ga jelas begini. Bahkan ada yang "konsepnya" mulai dari kami datang sampai bayar si waitress ga ngomong sama sekali. Begitu kami duduk dia langsung siap dengan note dan pulpen menunggu orderan kami sebutkan lalu pergi, orderan makan minum disajikan, selesai kami bayar. Ga ada ngomong sama sekali, hemat suara n senyum bangetlah pokoknya.
Ada lagi tempat makan pempek palembang yang bukan versi pinggir jalan. Waitress bisa teriak dan cekikikan dengan temannya sambil nyatet orderan kami.
Banyak lagi model-model kayak begini which is bukan tempat makan murah. Kadang segan dengan tamu yang kami bawa. Biasanya kami ke tempat seperti ini ingin serv tamu yang datang dari luar kota.
"Orang Pekanbaru itu memang ga punya nature of serving ya...?" demikian celetukan salah satu tamu yang heran dengan pelayanan di Pekanbaru.
Bagi UKM tentunya lebih mudah untuk bagusin toko/ cafe/ outlet atau banyakin meja kursi biar omset naik ketimbang melatih dengan KHUSUS+ SENGAJA + TERPROGRAM + KONTINUE para SDM mereka. Memang masalah SDM itu ada di semua tempat usaha, mau cari yang sudah siap pakai ya ga mudah terlebih jika konsep tidak jelas. Program Training bagi karyawan bukan pilihan namun keharusan. Apalagi budaya melayani dengan hati masih snagat lemah.
Jika tak segera berbenah, UKM lokal yang menggunakan tenaga tempatan akan tergusur, belum lagi denga ekspansi dari Jakarta dan sekitarnya plus dari negara tetangga.
Jangan lagi nanti teriak-teriak dan marah kepada usaha serupa yang lebih apik dan dipilih konsumen. Jika SDM kasar, lamban dan store berdebu, kumal, plus berantakan mana ada konsumen yang mau mampir.
Sering keluar dari toko ritel tradisional sambil ngomel "koq kita yang lebih ramah ya daripada yang jual, mereka perlu uang ga sih...?"
Ini ancaman bagi UKM yang masih saja sibuk berproduksi barang/ jasa tanpa mau memberikan waktu khusus untuk SDM mereka.
Menjadi tantangan bagi UKM yang sedang berupaya keras memperbaiki bisnisnya, jika ingin kuat dan bertahan, ini adalah "harga" yang harus dibayar.
Menjadi peluang bagi perusahaan training yang menyediakan jasa untuk melatih para SDMnya UKM di Pekanbaru.
Friday, 4 April 2014
Story Behind the Brand (TK Alifa Kids)
Pada awalnya konsep dan proses yang ada di cabang-cabang sekolah kami TK Alifa Kids nyaris tidak ada bedanya dengan sekolah yang sama di kota Pekanbaru. Namun perlahan kami terus mencari tahu apa sebetulnya yang diperlukan oleh konsumen kami (anak & orang tua)…
Thursday, 13 March 2014
Teruntuk Anak-Anak ku di Riau #RiauBerasap
Sudah lebih dari satu bulan kita bertahan dengan menghirup udara beracun akibat ulah tangan pembakar hutan....
Bunda rasa tak pantas jika kita sebut ini gejala alam. Kenapa alam yang terus terusan dipersalahkan...
Ananda ku sayang, kelak engkau besar ingatlah bahwa kepintaran mu tak akan membawa mu kepada kebaikan... tak akan membawamu kepada sorganya Allah jika engkau gunakan untuk menzholimi orang lain...
Moga dalam beberapa tahunmu belajar sambil bermain ini akan menjadi ingatan segar kelak... Bahwa betapa penting moral, karakter dan nilai nilai yang perlu engkau jaga selama engkau hidup....
Apapun kepintaranmu... pastikan engkau ingat "dari mana asalmu... sedang dimana engkau sekarang... mau kemana hidupmu setelah mati..."
Tak ada yang tau umur... ini bunda tulis untuk ananda tercinta... moga tulisan ini bisa ananda temukan...bisa menjadi pengingat bagimu, ditengah-tengah semangatmu berkarya.... Apakah karyamu mendekatkan dirimu pada sorganya Allah... atau sebaliknya...
*Nitey with smog
Wednesday, 12 March 2014
Teruntuk Bapak yg Menghitung Hari
Jangan MARAH yaaa...
titip dr Riau untuk RI 1 : Dear Yth. Presiden RI Bpk Susilo Bambang YudhoyonoYang sebentar lagi akan habis masa jabatannya. Riau, dari sini Bahasa Indonesia berasal, Bahasa yg pernah membuat Nusantara satu.
Titik api di sekitar kami, bukanlah simbol kemarahan Tuhan, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidak pedulian Negara, bukti kepongahan Jakarta trhdp Daerah. Bapak mau kesini skrg ? Bandara ditutup pak, lagipun tdk ada anak sekolah yg akan menyambut bapak, sekolah diliburkan. Mau menempuh jalur darat ? Bahaya pak, asap tebal tidak bagus buat kesehatan bpk dan ibu ani, lagian juga tdk bagus untuk objek foto Instagram.
Biarkan saja seperti ini, agar Riau bisa menjadi lahan sawit dan bisa ditanami tanaman Industri. Biarkan saja seperti ini, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA, karena ketidakberdayaan kami di daerah. Kami Pasrah, Mungkin ini kehendak Tuhan.
Bagi saudara/i kami di daerah lainnya, kami sgt berterima kasih atas doa yg selalu kalian panjatkan, mhn maaf krn kiriman asap Riau kalian jadi terganggu, jika kita tdk sempat bertemu muka, semoga kita bertemu di Surga nanti. Sebarkan ini, semampu yg anda bisa.. Karena Kita INDONESIA
Sumber : Anonim dari BBM
Tuesday, 4 March 2014
Pintu Ajaib
Dear friends....
Pernahkah merasa terjebak dalam suatu keadaan yang rasanya sudah ga ada jalan keluar...?
Satu-satunya yang terlihat hanyalah sebuah pintu... tapi sudah berusaha menarikkkkk sekuat tenaga namun pintu itu tak juga bisa dibuka...
Tak ada jendela... tak ada pintu lain bahkan tak ada atap yang bisa dipanjat. Seperti berada di sebuah kotak kubus dengan 1 pintu....
what's wrong with this...?
There's nothing wrong anyway.... hanya saja kita suka keliru memperlakukan pintu itu... Terlalu memaksa ditarik sekuat tenaga hingga hampir kehabisan tenaga...
Padahal pintu itu hanya perlu diGeser (sliding door). Hahaaahhaaa... betapa konyolnya tingkah kita... dan berteriak pada Tuhan bahkan nyaris protes dan mengeluh... Alangkah menggelikan dan bodohnya perangai kita....
Lebih lucu lagi... jika ternyata itu pintu besi Otomatis... sehabis tenaga mendobrak, sang pintu justru makin terkunci, karena dikira kita seorang pencuri yg ingin melarikan diri..... Hahahaahaaa (mari tertawa lagi)
Padahal kita hanya cukup diam manis sejenak.... lalu sang pintu pun dengan anggun terbuka sendiri...
Have a nice lunch, Teman....
Saturday, 1 March 2014
Menunggu Cintamu, Ayah...
Klik disini untuk berlangganan tips parenting GRATIS via email
Thursday, 27 February 2014
Aksi Instan Menghadapi Kabut Asap di Pekanbaru
Coba ya kalo para Kepala Dinas agak tegas sikit. Kutuk dan tuntut pelaku pembakaran hutan, desak pihak-pihak terkait untuk segera beraksi nyata. Bakalan dibilang provokator ga nih yha...?
Ruginya itu loh, bisa pergi ke sekolah itu hak nya semua siswa. Hanya karena kezholiman segelintir orang, hak mereka terabaikan.
Ga ngerti ya, mungkin negeri ini dirancang untuk orang-orang bermental 'sabar' dengan keadaan. Helloooo.... anybody there who can stop this smoke...? *yelling *nambah beli tisue *berangkat ke THT lagi gendong bayi
Wednesday, 26 February 2014
Negeri di Awan
Hampir sebulan nih menghirup asap...
Terakhir lihat berita katanya ada 16 pengusaha sawit yang bertanggungjawab untuk masalah asap di Riau ini. Pemerintah apa kabar yha..? Mau berapa lama masyarakat Riau ini dibiarin menghisap udara yang sudah beracun. Gue bilang racun karena faktanya udah pada pusing, mual, pilek dan batuk berjamaah.
Ga setuju banget kalo ada yang bilang ini musibah, karena mostly akibat ulah manusia yang sengaja ngerusak alam. Selfish banget, hanya untuk keuntungan pribadi ampe merugikan banyak orang, buka lahan main bakar aja.
Berharap turun hujan malam ini. Berharap juga pemerintah take action untuk menindak pihak-pihak yang bertanggungjawab. Ingat banget tahun lalu awal Pak Kapolda Riau baru dilantik, beliau udah nangkepin pembakar lahan. Nah, yang sekarang gimana nih...?
*PakeMasker





