Saturday, 21 February 2015

Ujian "Keimanan" bagi Pebisnis

Minggu lalu berkesempatan hadir di penjurian business plan kawan2 1in20 movement bersama pak Budi Satria Isman dan mas Yuszak M Yahya

Dari pemaparan, kritikan & masukan beliau2 terhadap bisnis kawan2 adalah :

FOKUS.... FOKUS.... FOKUS....

Fokus bisnisnya.... fokus produknya...

Beliau melihat tentunya dengan kacamata investor. Ya.... investor senang dgn bisnis yg Fokus dan Jelas alias ga banci...
Fokus dan ga "banci" owner...

Pastinya konsumen juga akan begitu. Konsumen juga senang ke bisnis yg jelas maunya apa? Menawarkan apa dan apa benefitnya bagi mereka...

Tapi memang... fokus dan kejelasan, baik secara produk maupun sikap owner bisnis ini sebuah tantangan tersendiri, apalg bagi UKM.
Belum apa2 sdh melirik bisnis yg lain... blm apa2 sdh tergiur ingin coba2 penghasil dari sana dan sini...

Membangun bisnis adlh hal yg mungkin tdk terlalu sulit, tp utk mampu fokus, bertahan dan bertumbuh di bisnis yg sama memang tidak mudah... "keimanan" owner benar2 diuji.
Kemarin jualan A, tetiba hari ini jualan B. Percayalah... konsumen akan sgera melupakan kita dan produk kita.

Pak Dahlan Iskan bilang :
Ujiam keimanan bagi pebisnis adalah pada kemampuannya utk FOKUS dlm bisnisnya...

*Hidup Pilihan

Sunday, 21 December 2014

Asah gergaji (menambah ilmu)


"Ahhhh.... kalo si Vivi mah ada orang gila jual obat juga dia beli, aneh dia emang !!!!"

=====
Demikian kira2 statement seseorang yg disampaikan ke bbrp orang teman... yak... dianggap aneh bahkan mgkn dianggap gila....
Tapi saya sangat2 menikmati pendapat ini, walau awalnya kesal juga... lama2 jadi bersyukur...

Orang ini pastinya tak mengenal saya (walau sdh bertahun2 "tau" saya). Dia tak mengenal bahwa saya dilahirkan dgn kebutaan ilmu ttg profesi yg saya jalankan sekarang (berkeluarga, punya suami, anak dan punya usaha).... Utk keempat hal ini saya 100% buta, namun saya sadar bahwa hidup bisa dijalankan dgn kebodohan... dan saya tak memilih utk bodoh....

Spt seorang tukang kayu... jika waktu saya hanya 7 hari, maka 5 harinya akan saya gunakan utk mengasah gergaji dan 2 harinya utk memotong kayu dgn gergaji yg tajam tadi...

Setiap orang bebas memilih... dan saya memilih utk tetap merasa bodoh agar tak tinggi hati dlm mencari ilmu...
Suami saya berhak didampingi oleh perempuan pintar, anak2 saya berhak dididik oleh ibu yg pintar... Tim saya berhak tumbuh di tempat usaha yg berilmu... konsumen saya berhak mendapatkan pelayanan yg berilmu...
Dan... Saya hanya memberikan hak2 mereka, dengan cara BELAJAR... krn saya Bodoh

Monday, 13 October 2014

Team Building

Alhamdulillah....
Dua hari full Tim Alifa Kids (Guru & Management) mengikuti inhouse training yg didampingi Pak Agus Sampurno ( @gurukreatif ).
Setelah 2 tahun akhirnya kesampaian ketemu beliau...
Beberapa kali sosok beliau jadi bahan diskusi kami, menyimak tweet dan tulisan beliau di blog, pemikiran-pemikiran beliau mencerahkan...

Dua hari kemarin melihat tim yang happy dan antusias, kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya pribadi. Walau tetap 'bekerja' hari minggu. Bisa saja mereka menolak karena toh libur adalah hak mereka...
Tapi yang kami dapatkan adalah kegembiraan dan antusias belajar. Bahasa tubuh mereka bicara jujur....

Bahagiaaaa.... berkumpul dengan tim yang punya kecintaan belajar... yang haus akan ilmu... yang juga ingin berbuat lebih baik bagi anak-anak dan orang tua...

Nikmat mana lagi yang harus kami dustakan...
Selama 6 tahun ini kami memang berfokus membangun tim, mendorong hati dan diri mereka untuk mau sama-sama bertumbuh...
Saat ini mungkin kami belum memiliki bangunan sekolah yang mengesankan... bahkan bukan sekolah yang bilingual (walau sudah memperkenalkan bahasa inggris dan arab kepada siswa dengan sederhana).

Kami yakin.... jika berfokus pada pengembangan tim, membantu mereka menjadi pribadi-pribadi terbaik dalam profesi mereka, maka fasilitas dan yang lainnya hanya akan jadi faktor pendukung... Kami perlu memastikan bahwa anak-anak seharian didampingi oleh orang-orang yang penuh cinta kasih dalam masa tumbuhkembang mereka...

Terimakasih, my Lovely Great Team... InsyaAllah kita akan terus bertumbuh, apapun caranya... Tak mudah puas dengan ilmu yang ada.... Anak-anak berhak untuk diberikan pendampingan terbaik...
Lets flying high together....

Love.. love... love.... you all...

Saturday, 27 September 2014

Guru sebagai Human Capital

"Siapa yang bunda pilih jika ada 2 orang calon menantu yang ingin melamar anak bunda, yang satu adalah seorang dokter dan yang satunya seorang guru?"

Tim kami senyum-senyum diam dengan pertanyaan ini. Yaa... ini faktanya, bahwa guru belum menjadi profesi idola apalagi impian... Bukan untuk membandingkan buruk baik, namun untuk membuka mata bersama dan melakukan perbaikan bersama...

Lalu siapa yang akan mengeser keadaan ini...? Tak mungkin orang lain, yang mampu dan seharusnya bisa melakukan ini adalah guru itu sendiri dan sekolah. Pemerintah...? Mungkin, tapi lebih baik kita lakukan hal-hal yang memang masih dalam jangkauan kita.

Sebuah tantangan ketika kami menghadapi yang katanya sarjana pendidikan namun saat di lapangan masih jauh dari apa yang kami bayangkan...
Tantangan juga saat kami berhadapan dengan pribadi-pribadi guru yang ketika diminta mengikuti training dan re-training namun datang dengan energi seadanya karena terpaksa...
Tantangan juga saat kami berhadapan dengan pencari kerja dan ingin menjadi guru hanya karena bisa bekerja setengah hari dan karena tak ada pilihan lain...
Tantangan pula bagi tim kami saat berkumpul dengan sesama rekannya dari sekolah lain lalu mendengar komentar "ngapain capek-capek kerja di sana, sampai sore lagi, harus ikut training ini itu..?"
(Padahal training-training ini Gratis.. tiss... tiss..., hehee...)
*CurhatKamiDariDaerah

Hanya guru sendiri yang bisa mengangkat derajat profesinya.... dengan bersikap layaknya seorang pendidik. "Resiko" bekerja dengan tim kami salah satunya bersedia akun sosial medianya diawasi. Yaa... kami memang mau repot-repot mengurusi sikap yang katanya seorang guru namun status-statusnya tak lebih dari ungkapan remaja galau atau keluhan-keluhan yang menebar energi negatif.

Kami memandang Guru sebagai Human Capital, selayaknya Capital/ Modal yang sangat sensitif bagi sebuah usaha. Modal menjadi kunci, modal diharapkan untuk selalu bertambah menjadi aset dan kekayaan, modal yang dijaga agar tidak tergerus...

Guru sebagai Modal dalam bentuk manusia/ subjek yang sangat-harus-mesti-wajib dijaga.

Dijaga agar kualitas diri pribadi mereka MENINGKAT. Bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan mereka. BERTAMBAH pengetahuan dan skillnya tak hanya dalam pekerjaan tapi juga dalam keseharian mereka. KEKAYAAN yang patut dijaga, karena tanpa pendidik yang berkualitas akan seperti apa anak didiknya...

Karenanya kami tak berdiam diri dan mengeluh ketika menerima "tantangan-tantangan" tadi. Sebisa kami menyediakan sarana belajar bagi tim guru. Benar bahwa training wajib diikuti oleh tim kami. Benar pula bahwa kami bersedia repot mengurusi tindak tanduk yang tak mencerminkan seorang pendidik.

Harga diri dan derajat seorang guru tak diperbaiki hanya dengan menuntut pihak luar/ orang lain untuk menghargai. Melainkan kerjasama dan kesediaan antara pribadi guru dan sekolah.

Mimpinya adalah sesegera mungkin kualitas pendidikan Indonesia dapat disejajarkan dengan negara lain yang diakui kehebatan kualitasnya.
Long way to go...? Mungkin.... Tapi harus ada yang mulai... KITA (Saya, tim kami dan Bapak Ibu Guru sekalian....)

*foto :Tim Alifa Kids usai mengikuti Seminar Personality (by STIFIn)

Tuesday, 23 September 2014

Melewati Titik Aman Pertama (5 tahun)

Business by accident...? Jawabannya bisa "ya" bisa "tidak"...
Ya, karena dulu sama sekali tidak pernah membayangkan akan beraktifitas dan memegang tanggungjawab seperti sekarang...
Tidak, karena apa yang datang sekarang saya yakini bukanlah kebetulan dan tanpa maksud. Allah pilihkan jalan ini sebagai jawaban dari pertanyaan yang berulang-ulang saat masih menjadi ibu dengan bayi 4 bulan "Apa yang bisa saya lakukan agar bermanfaat bagi orang lain dan saya cinta dengan pekerjaan itu...?"

Mungkin Tuhan juga 'gemes' karena nanya2 terus (statement ini jgn diplintir ya... hehee...). Akhirnya dikasi jalan ini, SATU PAKET dengan konsekuensi dan tanggungjawabnya.
Koq kesannya seram ya...? Ga cuma kesan koq, emang seram beneran, hahahaaa... (masih bisa ketawa)

Alhamdulillah, kami sudah lewati titik aman pertama... Menurut statistik bahwa 5 tahun pertama 95% usaha pemula bangkrut dan tutup. 5 tahun berikutnya adalah perjalanan menuju titik aman berikutnya...

Makin kesini makin sadar dan berbenah di sana sini.... Pernah ada yang berkomentar bahwa "Ooo... pendidikan dibisnisin ya...?" Yang begini ga perlu dijawab... Mungkin yang bersangkutan punya trauma dengan bisnis, sampai harus menterjemahkan bisnis sebagai hal yang tak baik...

Kenapa pendidikan dibisniskan...?
1. "Karena jika hanya berharap dari pemerintah ga akan sanggup memenuhi kebutuhan ratusan juta manusia di Indonesia ini" (pihak diknas sendiri yang state seperti ini)
2. Karena dengan kacamata bisnis, orientasinya adalah konsumen, apa yang mereka butuhkan, apa solusi yang bisa kita sediakan, apa yang bisa kita bantu, apa hak-hak mereka yang Wajib kita jaga dan berikan...?
3. Karena dengan kacamata bisnis jika sumber daya tak ada, segala cara dan upaya akan dilakukan agar kebutuhan konsumen tetap terpenuhi (cara-cara yang layak tentunya)

Saya pribadi bermimpi... Suatu saat Alifa Management (Alifa Kids) akan menjadi tempat favorit bagi orang-orang yang ingin bekerja... Ga hanya karena kompensasi yang mungkin lebih baik tapi juga karena budaya dan lingkungan kerja yg membuat mereka lebih tentram, damai lahir bathin..
Sehingga mereka bisa merasa : "my life feel better now..".

Setiap laki2 yang menjadi part of my team bisa merasa :
"gw bisa jadi laki2 dan suami yg lebih bermakna buat keluarga gw..."
Setiap perempuan yang menjadi part of my team bisa merasa :
"gw merasa nyaman, gw punya ilmu untuk mendidik anak2 gw & mendampingi suami gw...".

Well... on progress now... InsyaAllah dimudahkan... InsyaAllah semesta pun sedang berkonspirasi utk mendukung...
Allah pun mengirimkan "malaikat-malaikat" berwujud manusia yang akan membantu tim ini bermanfaat bagi semesta.... Aamiinnn...

Monday, 8 September 2014

Melarang = Mendidik...?

Kemarin baca link di timeline. Kira2 isinya bahwa tidak benar kalo kita ga boleh menggunakan kata "jangan" saat mendidik anak.
Pemikiran meniadakan kata jangan ini dianggap hasil pemikiran barat (jadi ya dimusuhin lagi, kasian dehhhh... capedeee....). Alasannya krn dlm Islam ada ayat yg menunjukan kata jangan misal dlm surat Luqman dll.
Jadi kalo pemikiran barat ini dipakai, ntar malah susah mengajarkan anak menjalankan syariat/ jadi ga syar'i.

Ngertiin ayat juga jgn kaku gitu donk... baiknya cari n tanya2 lagi.. kasian kalo ingin membesarkan islam tp dgn cara membenci barat... bukannya di barat sana jg ada muslim...?

=====
Balik ke urusan kata "jangan". Terserah mau pakai teori n pemikiran mananya ya... dari yg saya pribadi amati, kata jangan ini nyaris ga didengar (itu faktanya)...

Kenapa.....?
Krn saat guru atau ortu ngucapin kata "Jangan" cenderung:
1. Intonasi suara meninggi/ napsuan pengen marah. Jarang banget yg ngucapin kata ini dgn suasana hati damai lahir bathin. Nah, anak tuh bisa deteksi loh apakah ortu lagi damai or lagi kesel. Utk usia kanak2, makin meninggi suara makin anak "caper". Mereka "senang" sama reaksi yg berlebihan ini. Makanya, boro2 nasehat didengar, yang ada malah makin bikin emosi ortu menjadi-jadi, hehheee...
2. Pada saat bilang "Jangan", ortu atau guru ga kasi kalimat rasional lanjutannya.
Misal: Nak, jangan mainannya dibanting, kalo dibanting mainannya rusak, nanti adek ga punya mainan lagi....
Atau : Nak, sampahnya jangan dibuang sembarangan, nanti ada semut... bisa gigit kaki adek..

So, terserah aja sih mau pakai kata jangan tapi syarat n ketentuan berlaku ya, hehhee... (suara ga melengking n kasi alasan yang jelas), jadi bukan karena anti barat atau karena takut anak ga menegakan syariat (koq ya nyambungnya ngerepotin, heheee...)

Mau menjelaskan larangan dengan cara lain juga bisa... yakni dengan PERTANYAAN.
Misal : Sayang... apa bagus kalo kita buang sampahnya di sana...?
Atau : Sayang... apa baik kalo mainannya dibanting begitu...?

Pertanyaan ini ngajak otak anak berpikir dan harinya merasa... Kasi pertanyaan ke anak agar dia mampu berpikir kritis. Bukannya PERNYATAAN yang bikin anak punya mental "membebek". Walau huruf sama tapi efek beda jauh...

So, mau pakai metode apapun... Rasulullah ngajarin kita untuk membesarkan anak dengan kasih sayang... dengan lemah lembut... Toh tak satupun dari kita yang kelak mau dikasarin sama anak-anak kita kan...?
Anak-anak meniru/ terinspirasi oleh lingkungan (terutama ortu).
Terlalu banyak larangan dan perintah yang ia dapat malah bikin hatinya kaku... Ga percaya...? Cobain aja dan selamat menikmati hasilnya.. :)

Moga tulisan ringan ini bermanfaat...

Thursday, 7 August 2014

Orang Tua = Penguasa Anak...?

"Anak-anak dilahirkan ke dunia bukan untuk dijajah dan dikuasai, melainkan untuk dididik dan dimerdekakan"

Nemu quote ini di twitter.... Maknanya dalam banget, sebagai ortu mungkin kita merasa bahwa kitalah penguasa anak anak yg kita lahirkan & besarkan. Merasa telah berjasa dan berkorban segalanya bagi mereka.

Rasa ini seringnya berujung pada penguasaan ortu terhadap anak secara lahir bathin. Anak-anak tak diizinkan menjadi diri mereka sendiri. Orang tua merasa "paling tahu" apa yang terbaik untuk anak-anak mereka tanpa mau mendengar apa yang mereka inginkan. Sedikit argumentasi mereka lalu dianggap melawan dan dicap durhaka. Akhirnya lahirlah anak-anak bermental bebek yang bisanya ya hanya membebek.

Bukan berarti pula kita membiarkan anak-anak bicara dan berargumentasi tanpa etika. Ortu mestinya mampu membantu mereka untuk menjadi sosok yang berpikiran kritis namun dengan attitude yang baik. Masih ingatkan beberapa ulasan tentang kekerasan seksual pada anak...? Salah satu penyebab adalah karena anak tak diajarkan untuk berhak bersuara kepada orang yang lebih dewasa, ortu seolah-olah penguasa tunggal anaknya.

Setelah melewati masa kanak-kanak, 'prosesi' penguasaan orang tua ini berlanjut. Ketakutan tanpa membangun komunikasi yang baik dengan anak menjadi penyebab si remaja merasa dikekang dan akhirnya melawan. Sudah sering kita dengar berita kenakalan remaja... iya... yang nakal remaja... orang tuanya apa kabar...????

Yuk kita lanjut ke tahapan dewasa (masa si anak bekerja/ berkarya dan berumahtangga). Orang tua masih enggan melepas status kekuasaannya. Kita dengar bagaimana rumahtangga anak ikut "dibikin rame" oleh orang tua...?
Bahkan anak harus memilih: mendengarkan orang tua atau kah pasangan...? Kasian ya... ini cukup sering jadi penyebab huru hara rumahtangga. Bahkan ada yang menganut paham "mantan suami/ istri itu ada, mantan orang tua itu ga ada". Wahhh... wah.... bukankah anak menantu itu menikah atas nama Tuhan...? semudah dan semurah itukah diperbandingkan...?

Tulisan ini didedikasikan untuk para orang tua muda.... Kebanyakan kita meniru bagaimana cara kita dulu dibesarkan. Tak semuanya salah namun tak semuanya benar. Kita tak sedang menghakimi orang tua tapi sedang mendesain dan menjalankan proses membesarkan anak dengan cara terbaik dan sesuai 'zamannya'. Tuntunan yang tidak baik perlu diputus agar tak menjadi mata rantai yang tak ada habisnya.

Membesarkan anak adalah kewajiban kita, Tuhan berikan kebaikan atas kebaikan ini... Kita tak sedang "berdagang" dengan anak, kurang pantas jika kelak menuntut dan menyebut-nyebut kebaikan yang sudah diberikan kepada mereka, bahkan jika hingga mencap mereka durhaka.... Jangan-jangan kita pun sudah menjadi orang tua yang durhaka...?

Agar kelak kita tak jadi beban bagi anak-anak, ada baiknya diplanningkan masa tua kita sebaik mungkin. Seorang penasehat keuangan Ligwina Hananto di twitternya pernah berujar "banyak pasangan menikah yang tak bisa membeli rumah karena bocor-bocor kecil dalam keuangan mereka".
Kebocoran kecil ini yang perlu kita antisipasi. Besarkan anak-anak dengan sederhana (bukan berarti pelit). Ajarkan mereka berpikir fungsional. Misal, membelikan sepeda yang harga beberapa ratus ribu...? atau yang harga beberapa juta...? Fungsinya sama namun memang gengsinya yang beda.

Dalam sebuah training saya pernah diajarkan untuk merencanakan masa depan terbaik bagi anak dan bagi masa tua nanti. Suka tidak suka, permasalahan finansial sering menjadi gesekan anak menantu mertua, disamping hal-hal non materi lainnya....

Sederhana dalam mencinta.... yuk sama-sama kita bangun rasa ini, agar menjadi orang tua terbaik, menjadi orang tua yang dicintai anak-anak hingga tua kelak, bukan yang terpaksa dicintai karena mereka takut durhaka.... (Ga mudah... iya... ga mudah... bukak berarti ga bisa :) )